u3-Cyberbullying_SMPMP-1
Sembuh dari luka tak kasat mata:Cara Bangkit Kembali Setelah Menjadi Target Cyberbullying.

Sembuh dari luka tak kasat mata:Cara Bangkit Kembali Setelah Menjadi Target Cyberbullying.

 

      Tahukah kamu? dari data UNICEF yang ada 1 dari 3 remaja dari 30 negara melaporkan pernah mengalami perundungan digital. Siapa sangka, dibalik sosial media yang kini sangat mudah diakses ada luka yang tidak dapat terlihat, bahkan terkadang tidak dapat disadari oleh orang-orang sekitar, inilah yang disebut Cyberbullying.

 

        Faktor-faktor penyebab terjadinya cyberbullying salah satunya adalah pada media sosial terdapat fitur anonymous yang menyebabkan pelaku cyberbullying menjadi merasa aman karena tidak dapat diketahui oleh para korban maupun para pengguna media sosial lainnya.

Dilansir dari psikolog pada website klikdokter.com  

Ketika seseorang mencemooh lewat pesan teks pada Smartphone,Komputer, atau bahkan melalui media sosial serta forum dimana orang dapat melihat satu sama lain, berpartisipasi, atau membagikan konten.

Dinyatakan oleh www.halodoc.com

Cyberbullying dapat disebabkan oleh:

  • Anonimitas dan “Disinhibition Online
  • Rendahnya Empati Kepada Sesama Manusia
  • Pengucilan Digital (Exclusion)
  • Keinginan Berkuasa dan Pengakuan Terhadap Diri Sendiri
  • Pelampiasan Emosi Negatif
  • Normalisasi dan Tekanan Sebaya

 

        Menurut salah satu penelitian yang dipresentasikan pada rapat tahunan American Psychiatric Association, Cyberbullying memiliki resiko yang dapat memicu kecemasan, depresi , dan trauma yang mempengaruhi secara jangka panjang pada keselamatan mental korban. Serangan yang terus terjadi di media sosial juga dapat membuat korban merasa terisolasi dan kehilangan rasa percaya diri. Dikemukakan oleh  jurnal-fkip-uim.ac.id dan umsida.ac.id

Terdapat salah satu contohnya ada dari selebriti Indonesia yaitu RV yang menjadi korban cyberbullying di forum daring, dimana warganet kerap memberi komentar fisik negatif dan fitnah yang membuatnya sedih, terutama saat menghadapi perceraian. Dilansir oleh repository.upnvj.id

 

Bijak dalam bermedia sosial dapat mengurangi resiko cyberbullying  , terdapat 4 pencegahan yang bisa kita lakukan yaitu ;

 

  1. Jangan terlalu sering posting hal hal pribadi (lokasi, identitas, masalah pribadi) Seperti kata pepatah, tidak akan ada asap jika tidak ada api. Mungkin kamu tidak bisa mengatur komentar orang, tetapi kamu bisa mengelola apa-apa saja yang bisa dibagi di media sosial pribadi. Apalagi kalau kamu tipe orang yang mudah tersinggung, menghindari over-posting dapat membantu menjaga kesehatan mental dengan terhindar dari komentar-komentar netizen yang belum tentu positif buat mentalmu.

 

  1. Batasi dalam komentar yang tidak penting , tidak perlu menambahi isu yang sudah panas dengan komentar-komentar yang semakin memperuncing masalah, atau ikut menghakimi subjek di suatu posting-an. Mungkin kamu merasa lega setelah mengungkapkan pendapat, tapi coba bayangkan, bagaimana bila orang yang sedang dibicarakan di dalam posting-an tersebut membaca dan terpuruk karenanya? Jadi, berempatilah, kalau memang ingin berkomentar, tetap gunakan empati dan jangan menghakimi. 

 

  1. Batasi penggunaan media sosial, terlalu banyak menghabiskan waktu di media sosial bisa meningkatkan penggunaan yang tak perlu. Salah satunya membalas komentar atau memberikan komentar-komentar mengandung SARA di posting-an pengguna lain akhirnya, ini bisa memicu ketidaknyamanan, stres dan memperparah kondisi netizen yang sedang dalam ketidakstabilan mental.

  1. Jangan mudah terpancing , Selain membatasi postingan, kamu juga perlu membatasi diri untuk mengomentari sesuatu di internet. Selain itu, ketika kamu mendapatkan komentar tidak menyenangkan di media sosial, jangan langsung terpancing. Ada pilihan delete, block, atau report untuk segala sesuatu yang mengganggu ketidaknyamananmu sebagai pengguna media sosial.

         Pada akhirnya, luka yang ditinggalkan oleh ketikan di layar sering kali jauh lebih dalam dan lebih sulit sembuh dibandingkan luka fisik. Kita perlu ingat bahwa di balik setiap akun yang berinteraksi dengan kita, ada manusia dengan perasaan yang sama rapuhnya seperti kita. Jangan biarkan sosial media merenggut empati kita kepada orang lain, jadilah alasan seseorang merasa aman di dunia maya, bukan alasan mereka merasa takut untuk sekadar membuka sosial medianya. Karena pada setiap kata yang kita kirimkan, kita sedang memilih untuk membangun harapan atau justru menghancurkan jiwa seseorang.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait