u3-Normalisasi-bullying-di-sekolah_SMPMP
Normalisasi yang Menyakitkan: Saat Bullying Dianggap Bercanda

“Normalisasi yang Menyakitkan: Saat Bullying Dianggap Bercanda”

Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering menjumpai candaan yang tampak ringan, percakapan yang diselingi tawa, dan interaksi sosial yang terasa akrab. Namun, tidak semua tawa lahir dari rasa nyaman. Ada kalanya seseorang tertawa untuk menutupi perasaan tidak enak, agar tidak dianggap berbeda, atau agar tetap diterima dalam kelompoknya. Di sinilah fenomena painful normalization mulai terasa nyata—ketika perilaku yang sebenarnya menyakitkan justru dianggap biasa karena dibungkus sebagai candaan. Kalimat seperti “ah, cuma bercanda” atau “jangan terlalu baper” sering kali menjadi tameng untuk menghindari tanggung jawab atas luka yang ditimbulkan. Tanpa disadari, kita hidup dalam budaya yang perlahan mengaburkan batas antara humor dan kekerasan emosional. Ketika hal ini terjadi berulang, maka rasa sakit menjadi sesuatu yang dianggap wajar. Dan yang lebih menyedihkan, korban sering kali memilih diam karena merasa suaranya tidak akan dipahami.

Fenomena ini tidak hanya terjadi di satu ruang, tetapi menyebar di berbagai lingkungan—dari sekolah, kampus, hingga tempat kerja. Dalam banyak situasi, candaan digunakan sebagai cara untuk membangun kedekatan, tetapi juga bisa menjadi alat untuk merendahkan orang lain. Penelitian menunjukkan bahwa humor sering kali digunakan untuk menyamarkan perilaku yang sebenarnya bersifat melecehkan atau mengeksklusi individu tertentu ​(Hodson & MacInnis, 2016)​​(Zedlacher & Salin, 2021)​ . Dalam konteks ini, batas antara bercanda dan menyakiti menjadi sangat tipis. Bahkan, dalam representasi media seperti serial The Office, perilaku bullying sering digambarkan dalam bentuk humor, sehingga terlihat seolah-olah tidak berbahaya ​(Sumner et al., 2016)​. Hal ini perlahan membentuk cara pandang masyarakat bahwa tindakan tersebut adalah hal yang normal. Padahal, di balik humor itu, ada individu yang mungkin merasa direndahkan, dipermalukan, atau disisihkan.

Di era digital, fenomena ini menjadi semakin kompleks. Media sosial membuka ruang interaksi yang luas, tetapi juga menghadirkan risiko baru berupa cyberbullying. Cyberbullying adalah perilaku menyakiti yang dilakukan secara berulang melalui media digital, seperti komentar kasar, hinaan, atau penyebaran konten yang merendahkan. Remaja menjadi kelompok yang paling rentan, karena mereka sangat aktif di ruang digital Data menunjukkan bahwa sekitar 36,5% siswa pernah mengalami cyberbullying setidaknya sekali dalam hidup mereka, dan bentuk yang paling umum adalah komentar kasar atau kejam Angka ini bukan sekadar statistik, tetapi gambaran nyata bahwa banyak individu pernah merasa terluka di ruang yang seharusnya menjadi tempat berbagi. Yang membuat situasi ini semakin sulit adalah ketika komentar tersebut disampaikan dengan nada bercanda, sehingga korban merasa ragu untuk menganggapnya sebagai serangan. Dalam banyak kasus, humor menjadi cara untuk menyamarkan kekerasan, membuatnya tampak ringan padahal dampaknya tidak ringan sama sekali (​(Y. Chen, 2018)​,  ​(Moloney & Love, 2018)​ ​(X. Chen et al., 2025)​

Normalisasi ini tidak terjadi begitu saja, melainkan tumbuh dari kebiasaan dan budaya yang terus dibiarkan. Di beberapa lingkungan kerja, misalnya, candaan yang merendahkan dianggap sebagai bagian dari “budaya profesional” atau cara untuk menguji ketahanan seseorang. Penelitian menunjukkan bahwa dalam beberapa subkultur, seperti rumah sakit atau dapur profesional, humor digunakan sebagai alat untuk memperkuat hierarki dan relasi kuasa ((​Mortensen & Baarts, 2018)​( ​(Meiser & Pantumsinchai, 2021)​. Bahkan, media sering menggambarkan kekerasan verbal sebagai sesuatu yang biasa, bahkan menarik, sehingga memperkuat persepsi bahwa hal tersebut dapat diterima. Dalam dunia akademik, kurangnya perhatian dari pimpinan juga membuat bullying terus berlangsung tanpa penanganan yang serius ​(Cassell, 2011)​. Semua ini menunjukkan bahwa normalisasi bullying bukan hanya masalah individu, tetapi juga masalah sistem dan budaya. Ketika lingkungan membiarkan, maka perilaku itu akan terus hidup.

Dampak dari semua ini tidak bisa dianggap sepele. Di balik candaan yang menyakitkan, ada individu yang perlahan kehilangan rasa percaya diri, merasa tidak aman, dan bahkan mengalami tekanan psikologis yang berat. Penelitian menunjukkan bahwa korban bullying dapat mengalami kecemasan, depresi, hingga gangguan hubungan sosial (​(Lindquist & McKay, 2018)​; ​(Steer et al., 2020)​; ​(DAVIS et al., 2023)​; ​(Durrant, 2024)​; ​(Newman et al., 2022)​. Dalam jangka panjang, pengalaman ini dapat memengaruhi perkembangan karier, relasi sosial, dan kesehatan mental seseorang. Di tingkat organisasi, bullying juga berdampak pada menurunnya kepercayaan, kerja sama, dan produktivitas. Lingkungan yang tidak aman membuat individu sulit berkembang dan merasa tidak dihargai. Dalam konteks pendidikan, hal ini juga dapat menghambat potensi siswa, terutama mereka yang berasal dari kelompok minoritas ​(Corbett et al., 2024)​. Dengan kata lain, dampak bullying tidak hanya dirasakan oleh individu, tetapi juga oleh komunitas secara keseluruhan.

Meski demikian, penting untuk memahami bahwa tidak semua humor bersifat negatif. Dalam banyak situasi, candaan justru menjadi cara untuk membangun kedekatan dan mengurangi stres. Namun, perbedaan utama terletak pada dampaknya. Humor yang sehat adalah humor yang membuat semua orang merasa nyaman, bukan sebaliknya. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa interpretasi terhadap humor bisa berbeda-beda, tergantung pada konteks dan persepsi individu (​(Buglass et al., 2020)​. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih peka terhadap reaksi orang lain. Ketika seseorang terlihat tidak nyaman, itu adalah tanda bahwa sesuatu perlu diperhatikan. Empati menjadi kunci dalam hal ini—kemampuan untuk merasakan apa yang dirasakan orang lain, dan menghargai batasan mereka.

Mengatasi painful normalization bukanlah hal yang mudah, tetapi bukan pula sesuatu yang mustahil. Perubahan bisa dimulai dari hal-hal kecil, seperti cara kita berbicara, bercanda, dan merespons orang lain. Di tingkat yang lebih luas, organisasi perlu memiliki kebijakan yang jelas tentang batas antara candaan dan bullying, serta menyediakan ruang aman bagi korban untuk melapor (​(Zedlacher & Salin, 2021)​. Pendidikan tentang empati, komunikasi sehat, dan peran bystander juga sangat penting untuk membangun budaya yang lebih manusiawi. Media juga memiliki peran besar dalam membentuk persepsi publik, sehingga perlu ada upaya untuk menghadirkan representasi yang lebih adil dan realistis (​(Meiser & Pantumsinchai, 2021)​ ​(Sumner et al., 2016)​. Dengan pendekatan yang menyeluruh, kita dapat mulai mengurangi praktik normalisasi ini.

Pada akhirnya, fenomena painful normalization mengajak kita untuk lebih jujur dalam melihat realitas sosial. Tidak semua yang dibungkus sebagai candaan benar-benar tidak berbahaya. Kadang, luka justru datang dari hal-hal yang terlihat kecil dan dianggap sepele. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk lebih peka, lebih peduli, dan lebih berani untuk mengatakan bahwa sesuatu tidak baik-baik saja. Dunia yang lebih manusiawi dimulai dari kesadaran bahwa setiap kata memiliki makna, dan setiap tindakan memiliki dampak. Jika humor bisa menyatukan, maka ia juga seharusnya tidak melukai. Dan mungkin, perubahan besar itu dimulai dari hal sederhana: memilih untuk tidak menyakiti, meski hanya dalam bentuk candaan.

 

 

​​Buglass, S. L., Abell, L., Betts, L. R., Hill, R., & Saunders, J. (2020). Banter Versus Bullying: A University Student Perspective. International Journal of Bullying Prevention3(4), 287–299. https://doi.org/10.1007/s42380-020-00085-0 

​Cassell, M. A. (2011). Bullying in Academe: Prevalent, Significant, andIncessant. Contemporary Issues in Education Research (Cier)4(5), 33. https://doi.org/10.19030/cier.v4i5.4236

​Chen, X., Saharuddin, N., Yasin, M., & Wang, M. (2025). Online Moral Deviance: An Integrative Review of Digital Behaviors. Frontiers in Psychology16https://doi.org/10.3389/fpsyg.2025.1573164 

​Chen, Y. (2018). “Being a Butt While on the Internet”: Perceptions of What Is and Isn’t Internet Trolling. Proceedings of the Association for Information Science and Technology55(1), 76–85. https://doi.org/10.1002/pra2.2018.14505501009 

​Corbett, E., Barnett, J., Yeomans, L., & Blackwood, L. (2024). “That’s Just the Way It Is”: Bullying and Harassment in STEM Academia. International Journal of Stem Education11(1). https://doi.org/10.1186/s40594-024-00486-3 

​DAVIS, H. W. C., Lawrence, S., Wilson, E., Sweeting, F., & Poate-Joyner, A. (2023). ‘No One Likes a Grass’ Female Police Officers’ Experience of Workplace Sexual Harassment: A Qualitative Study. International Journal of Police Science & Management25(2), 183–195. https://doi.org/10.1177/14613557231157185 

​Durrant, I. (2024). Is Banter Bullying or a Necessary Part of the Police Officer Toolkit? The Police Journal Theory Practice and Principles98(1), 37–57. https://doi.org/10.1177/0032258×241231711 

​Hodson, G., & MacInnis, C. C. (2016). Derogating Humor as a Delegitimization Strategy in Intergroup Contexts. Translational Issues in Psychological Science2(1), 63–74. https://doi.org/10.1037/tps0000052 

​Lindquist, C., & McKay, T. (2018). Sexual Harassment Experiences and Consequences for Women Faculty in Science, Engineering, and Medicinehttps://doi.org/10.3768/rtipress.2018.pb.0018.1806 

​Meiser, E. T., & Pantumsinchai, P. (2021). The Normalization of Violence in Commercial Kitchens Through Food Media. Journal of Interpersonal Violence37(15–16), NP13928–NP13951. https://doi.org/10.1177/08862605211005138 

​Moloney, M., & Love, T. P. (2018). Assessing Online Misogyny: Perspectives From Sociology and Feminist Media Studies. Sociology Compass12(5). https://doi.org/10.1111/soc4.12577 

​Mortensen, M., & Baarts, C. (2018). Killing Ourselves With Laughter … Mapping the Interplay of Organizational Teasing and Workplace Bullying in Hospital Work Life. Qualitative Research in Organizations and Management an International Journal13(1), 10–31. https://doi.org/10.1108/qrom-10-2016-1429 

​Newman, J. A., Warburton, V. E., & Russell, K. (2022). It Can Be a “Very Fine Line”: Professional Footballers’ Perceptions of the Conceptual Divide Between Bullying and Banter. Frontiers in Psychology13https://doi.org/10.3389/fpsyg.2022.838053 

​Steer, O. L., Betts, L. R., Baguley, T., & Binder, J. (2020). “I Feel Like Everyone Does It”- Adolescents’ Perceptions and Awareness of the Association Between Humour, Banter, and Cyberbullying. Computers in Human Behavior108, 106297. https://doi.org/10.1016/j.chb.2020.106297 

​Sumner, E. M., Scarduzio, J. A., & Daggett, J. R. (2016). Drama at Dunder Mifflin: Workplace Bullying Discourses on <i>The Office</I>. Journal of Interpersonal Violence35(1–2), 127–149. https://doi.org/10.1177/0886260516681158 

​Zedlacher, E., & Salin, D. (2021). Acceptable Behavior or Workplace Bullying?—How Perpetrator Gender and Hierarchical Status Affect Third Parties’ Attributions and Moral Judgments of Negative Behaviors. Societies11(2), 62.  https://doi.org/10.3390/soc11020062

 

 

​ ​

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Nyalanesia bekerja sama dengan ribuan guru dan kepala sekolah di seluruh Indonesia untuk bersama-sama membangun jembatan literasi agar setiap anak punya kesempatan untuk mewujudkan mimpi.

Pendidikan adalah alat untuk melawan kemiskinan dan penindasan. Ia juga jembatan lapang untuk menuju rahmat Tuhan dan kebahagiaan.

Mendidik adalah memimpin,
berkarya adalah bernyawa.

Artikel Terkait